Overview
Jogyakarta Font merupakan salah satu font ekperiment. Font ini saya kerjakan sebagai bagian dari salah satu final project saya di kampus. Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan typography, apalagi membuat 1 set font, seperti Jogyakarta Font ini. Namun sejalan dengan project-project yang saya kerjakan saya semakin tertarik untuk memperdalam ilmu typography selain yang didapat sewaktu kuliah.

Dan ketika kesempatan ini datang, yang pertama kali saya lakukan adalah melakukan research tentang aksara jawa dan berbagai ornament jawa Indonesia. Membandingkannya dengan beberapa font terdahulu termasuk font-font gaya hanacaraka yang pernah dibuat sebelumnya dan font-font yang satu rumpun seperti sankrit, siam dan bali script.

Font-font ini berbeda dengan alphabet modern yang biasa kita gunakan, mereka memiliki keunikan tersendiri, salah satunya yaitu banyaknya "curve" yang digunakan. "Curve" yang digunakan ini merupakan refleksi keindahan tulisan tangan dan ornament asia, namun nantinya ternyata "curve" ini menjadi bumerang dalam pengaturan kerningnya.


Devimahatmya manuscript on palm-leaf, in an early Bhujimol script, Bihar or Nepal, 11th century.(Source: Wikipedia)

Beberapa huruf sket awal di graphic book.

Detail Pengerjaan
Selanjutnya hasil research ini saya terjemahkan kedalam sket awal.Dari sket awal ini barulah kita gambar detailnya di sebuah graphic book, membuat outlinenya dan mewarnai dengan tinta hitam. Sebagai designer modern pasti sebagian dari kita bertanya, kenapa tidak langsung saja mengerjakan di computer, tinggal scan dan auto trace bukankah itu lebih menghemat banyak waktu? Memang benar, tetapi kadang hal tersebut menghilangkan "roh" dari font yang kita kerjakan, dengan mengerjakan secara manual kita bisa banyak berlatih merasakan font yang kita kerjakan, mulai dari beratnya, kerning, keseragaman, curve tiap huruf dan optical corection. Dari sini saya baru mengerti mengapa para font maker seperti Erik Spikermann, Hermann Zapf, Martin Majoor dll membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuat satu set font saja. Ternyata memang banyak hal harus diperhitungkan untuk mengerjakan sebuah font. Mungkin lebih susah untuk mengerjakan sebuah font dari pada menggunakannya. Kadang kita tidak terlalu menghargai sebuah font, hanya sekedar menggunakan tanpa tau lebih jauh fungsi dari font tersebut.

Kembali ke Jogyakarta Font, Finally setelah proses yang cukup melelahkan tapi menyenangkan, sket ini dirubah ke bentuk digitalnya, kita bisa menggunakan Freehand atau illustrator untuk mengubahnya menjadi vector graphic. Proses ini ternyata cukup panjang juga, kita tidak bisa langsung auto trace, semakin sedikit point yang digunakan untuk mengatur curve akan semakin baik.Jadi penggunaan auto trace tidak disarankan. Selanjutnya tiap-tiap huruf (glyph) saya bawa ke fontlab dan diatur spacing dan kerningnya. Proses ini mungkin adalah proses paling susah, karena tiap glyph mempunyai karakter dan curve yang berbeda, dalam prosesnya font ini harus sering dicoba diaplikasikan dalam berbagai body text dan headline dalam berbagai size, jika belum pas kembali diatur spacing dan kerningnya. Kadang satu glyph bisa lebih dari 20 testing.

Selanjutnya setelah saya rasa pas, baru font ini saya convert ke ttf, otf atau pfm, sesuai dengan kebutuhan. Saya juga menambahkan beberapa ornament jawa dan ascent untuk melengkapinya. Hasilnya bisa kita lihat dibawah ini.(***)